Diceritakan
pada abad ke 15 ada seekor keledai yang diternak oleh seorang yang memiliki
puluhan kuda pacu yang amat sangat indh dan bertenaga. Pada suatu hari salah
satu kuda di ajak oleh pemiliknya untuk mengunjungi desa yang tidak jau dari peternakan
itu. Sang keledai melihat dengan sangan bahagia karena keledai itu ingin sekali
diajak oleh pemiliknya untuk pergi suatu tempat. Hari berikutnya sang
pemmilikpun mengajaka kuda yang lain untuk pergi dengannnyake desa. Keledai
tidak patah semangat dan terus berharap. Hari demi hari dilewti sang keledai
hanya melihat para kuda diajak oleh pemilik untuk pergi dengan menungganginya.
Keledai mulai putus asah dan merasa bahwa dia tidak diperlukan dipeternakan
tersebut. Hingga pada suatu hari pemilik datang ke kandang dengan membawa
barang-barang bawaan yang cukup banyak dan keledai sudah tidak memiliki harapan
bahwa dia akan dipilih oleh sang pemilik, namun terdengar suara pintu yang
terbuat dari besi berbunyi dan masuklah seorang pria dengan membawa perlengkapan
penunggang kuda masuk ke kandang si keledai dan keledaipun merasa sangat
bahagia setelah sekian lama akhirnya dia diajak untuk pergi ke desa bersama
dengan sang pemiliknya. Dikeluarkannya lah keledai ke depan kandang peternakan
sambil menunggu dirinya siap dan dipasangnya alat-alat untuk menuggang kuda.
Namun sang keledai mulai melihat-lihat kuda-kuda yang ada dikandang
menertawakannya dan kuda-kuda tersebut mulai bicara “kasihan sekali ya keledai
diajak ke desa dengan membawa banyak barang bawaan” salah satu kuda berbicara.
Sang keledaipun mulai merundukan kepala dan suasana bahagia berubah menjadi
sedih. Kemudia ia mendengar kembli “hahaha… iya dia hanya digunakan untuk
menganggkut barang—barang saja, tidak seperti kita” sahut kuda yang ada didalam
kandang bberbicara dengan kuda-kuda lainnya. Keledai mulai sangan sedih dan
semakin menundukan kepala dan terlihat tidak bersemangat. Namun tidak berapa
lama keledai mendengar sesuatu “untung saja saya punya seekor keleai sehingga
saya tidak perlu menyewah kendaraan angkut” sang pemilik pun melontarkan kalmia
tersebut kepada dirinya sendiri. keledai mulai merasa bahwa dirinya memang
dibutuhkan dan kesedihan yang terlihat berubah menjadi kebahagian yang membuat
keledai menjadi semangat. Sang pemilik pun mulai menyuruh keledai untuk jalan.
Keledai jalan dengan semangat dan sangat bahagia. Keledai mulai memiliki
kalimatnya sendiri
“segala sesuatu yang ada itu terlahir dengan kegunaannya
masing-masing”.
thanks
No comments:
Post a Comment